Good Reads

Senin, 07 Mei 2012

Berkunjung ke Kebun Salak Pondoh



Salak pondoh merupakan salah satu produk agro unggulan dari kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis salak yang satu ini rasanya manis dan segar, sangat diminati sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan domestik yang berkunjung ke Jogja.


Sudah lama teman saya yang memiliki kebun salak pondoh menawarkan kepada saya dan teman-teman untuk mengunjungi kebun salaknya.Sayangnya tawaran menarik ini seringkali sulit diwujudkan karena kesibukan kami. Namun, akhirnya kesempatan itu pun akhirnya datang juga. Di suatu minggu pagi yang cerah di bulan April, kami berempat pun berkendara motor menuju kebun salak pondoh milik teman saya. Kebun Salak Alex, teman saya itu terletak di Desa Surodadi, tepatnya di lereng barat daya Merapi di bawah kaki Bukit Turgo.


Sejauh mata memandang hanya kehijauan yang tampak, kehijauan yang tampak sangat rapat sehingga menyerupai tempat bernaung yang meneduhkan. Kita bisa berjalan di antara tanaman salak tanpa khawatir merasa kepanasan. Sebuah kali kecil dengan airnya yang jernih mengalir tersembunyi di antara rapatnya kebun salak. Suasana terasa sangat menyejukkan sekaligus hangat menyenangkan.


Pak Tasno, sang pengelola kebun sudah hadir di kebun terlebih dahulu dengan karung kosong yang siap diisi salak. Hari itu sebenarnya bukanlah saat panen, namun yang saya lihat cukup banyak pohon yang buahnya sudah siap petik.



Saya takjub melihat gerombolan buah salak yang besar-besar tergantung di kaki pohon salak. Ada satu jenis salak yang menarik perhatian saya, yaitu salak gading, yang kulitnya berwarna cenderung kuning. Harganya pun lebih mahal dari salak biasa. Konon, menurut Alex, salak gading memiliki khasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Namun, tidak banyak salak gading ditanam di kebun Alex, hanya beberapa pohon saja. Selebihnya adalah salak pondoh biasa. Beberapa buah salak dipetik Alex dan diberikan kepada saya, suami saya dan Adriani, teman saya. Rasanya sangat enak, betul-betul fresh from the tree!



Untuk memetik salak, dibutuhkan golok dan sarung tangan, terutama buat yang belum terbiasa, mengingat pohon salak adalah pohon yang berduri banyak. Pak Tasno memeragakan cara memetik salak yang benar dan aman untuk kami. Beliau adalah seorang penyuluh perkebunan salak berpengalaman, yang menurut Alex merupakan salah satu pelopor boomingnya kebun salak pondoh di daerah Turi, Sleman sejak tahun 1990-an. Saat itu Pak Tasno berhasil mengkonversi ladang tebu yang tak produktif menjadi perkebunan salak. Saking berpengalamannya, Pak Tasno bisa membuat kebun salak  panen hingga lebih dari 3 kali setahun, padahal biasanya salak dipanen sekitar 2-3 kali saja per tahun.


Cara cerdik Pak Tasno adalah dengan menaburkan serbuk sari dari tanaman salak jantan ke bunga yang ada di tanaman salak betina. Tanaman salak yang ada di kebun salak Alex semuanya tanaman salak betina. Jadi, dengan cerdasnya Pak Tasno mengumpulkan serbuk sari dari tanaman salak jantan dan menyimpannya ke dalam botol plastik bekas saus sambal. Serbuk sari itu kemudian ditaburkan ke bunga tanaman salak betina, yah, semacam kawin suntiklah kalau dianalogikan.


Berjalan di antara pohon salak pun harus hati-hati, karena terkadang ada duri dari dahan yang patah berserakan di tanah. Teman saya Adriani sempat tertusuk duri pohon salak di kakinya. Walaupun tidak menimbulkan luka yang parah, tapi cukup menyakitkan juga tampaknya. Karena itulah sepatu boots plastik antibanjir menjadi salah satu properti yang wajib dikenakan oleh petani salak.




Bu Tasno, istri Pak Tasno menyusul tak lama setelah kedatangan kami. Beliau sudah menyiapkan keranjang anyaman plastik untuk menampung salak.Jadi, sudah ada dua buah karung, plus satu keranjang anyaman plastik untuk menampung salak hasil 'panen' kali ini. Setelah salak terkumpul, segera penuhlah kedua karung dan keranjang itu. Bu Tasno mengikatkan selendang di karung yang penuh berisi salak dan menaikkan di punggungnya dibantu Pak Tasno. Bakul bambu berisi salak seberat kurang lebih 30 kg itu dengan mudah dibawanya berjalan.



Alex dan suami saya membantu membawakan salak masing-masing satu karung. Mereka membawanya di pundak, dan keluar dari kebun salak, sementara saya dan Adriani tinggal di dalam kebun salak, bermain-main dengan aliran kali kecil yang dingin dan segar. Setelah mereka kembali, kami pun meneruskan penelusuran di dalam kebun salak, memetik buah salak dan memasukkannya ke dalam kantung plastik yang kami bawa. Sampai saat makan siang, telah terkumpul cukup banyak salak untuk bisa dijual dengan menggelar lapak di depan rumah, hehehe...Kami pun membagi-bagi salak tersebut menjadi dua, satu bagian untuk saya dan suami, dan bagian lainnya untuk Adriani, kedua orang tua serta kerabatnya dari Medan yang menyusul untuk melihat kebun salak Alex.

Terima kasih untuk salaknya ya Alex!

Jumat, 27 April 2012

Surga Seafood Pantai Teluk Penyu Cilacap (Part 3)


Pada episode kedua, saya melihat-lihat proses masak-memasak seafood di warung Ibu Niwen. Nah, kali ini adalah kesempatan untuk mencicipinya setelah lelah berjalan-jalan di sekitar tempat pelelangan ikan...



Hari Kedua di Cilacap. Hari terakhir untuk melengkapi foto-foto yang masih kurang. Sejak awal saya ingin membuat foto story tentang seafood di Pantai Teluk Penyu. Namun, saya masih belum terlalu memfokuskan pada subjek tertentu. Setelah wide edit dengan bimbingan mentor sampai tengah malam, akhirnya saya pun memutuskan untuk melengkapi foto-foto saya sampai di Tempat Pelelangan Ikan (selanjutnya kita sebut saja TPI), Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Saya memilih udang sebagai tema sentral cerita saya, jadi saya harus mencari aneka gambar yang mendukung cerita saya, mengenai udang.


Setelah sarapan, kami pun berangkat menuju pantai Teluk Penyu. Saya dan beberapa orang teman meminta untuk diturunkan tak jauh dari tempat pelelangan ikan. Kami pun berjalan bersama lalu berpisah untuk menuju tempat tujuan masing-masing. Saya menuju tempat pelelangan ikan, sedangkan teman-teman saya melanjutkan perjalanan sampai galangan kapal. Pagi itu sekitar jam 9. Cuaca sedikit berawan, namun, udara terasa gerah. Saya meneruskan langkah menuruni tangga penyeberangan menuju tempat pelelangan ikan. Menurut informasi yang saya dapat, tempat pelelangan ikan ini adalah yang terbesar di kawasan ini. Dalam benak saya, TPI ini pasti ramai dan penuh sesak dengan orang-orang yang bertransaksi jual-beli hasil laut, pemandangan indah yang ternyata tidak sejalan dengan kenyataan yang saya saksikan. TPI ini terlihat sepi-sepi saja. Hanya terlihat beberapa lapak yang menggelar dagangannya. Karena tak yakin, saya pun bertanya kepada seseorang yang ada di sana, apakah benar ini tempat pelelangan ikan terbesar di sini. Ternyata benar, saya tidak salah alamat. Setelah saya mencari tahu dengan menanyakan kepada seorang ibu penjual, ternyata tempat ini sepi karena sedang musim ombak, sehingga hasil laut yang didapat oleh nelayan berkurang. Akibatnya, jumlah hasil laut yang disetorkan nelayan kepada para pedagang pun ikut berkurang, yang berujung pada sepinya tempat ini.



Saya tak patah semangat. Sambil tetap memotret, saya pun menunggu hingga tempat ini menjadi lebih ramai. Benar saja, tak lama kemudian, beberapa lapak pun mulai dibuka. Satu-dua pedagang yang berdatangan mulai menata dagangannya. Para pembeli pun mulai berdatangan. Ada yang membeli dalam jumlah banyak, usut punya usut ternyata pembeli tersebut adalah pengusaha katering. Aneka jenis hasil laut tersedia di sini. Semuanya segar dan beraneka jenis, ada udang aneka jenis dan ukuran, kepiting, aneka jenis ikan. Tak lupa dijual pula aneka jenis ikan asin yang digantung-gantung dalam plastik. Tong-tong plastik, kotak-kotak gabus untuk tempat penyimpanan pun turut menghiasi tempat ini.


Saya melangkahkan kaki ke luar menuju dermaga kecil yang ada di dekat TPI. Dermaga ini kecil saja, untuk tempat merapatnya kapal-kapal nelayan yang datang menyetorkan hasil laut tangkapan. Di sini saya melihat aktivitas yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dimulai dari merapatnya satu demi satu kapal nelayan di dermaga. Di dermaga, para pengepul sudah menunggu untuk membeli dagangan nelayan yang datang. Hasil laut para nelayan ini kemudian digelar, dan para pengepul memilih-milih yang akan dibeli, lalu menimbangnya. Setelah tercapai kesepakatan, terjadilah transaksi jual-beli antar mereka.


Setelah puas mengambil gambar di TPI, saya pun melanjutkan perjalanan bersama seorang teman saya yang kebetulan ada di TPI juga, menuju ke galangan kapal menjemput teman-teman lainnya untuk mengajak mereka makan siang di kios pedagang hasil laut sepanjang pantai Teluk Penyu. Saya mengajak teman-teman saya itu ke warung Ibu Niwen untuk makan siang di sana. Kami memesan setengah kilogram udang saus padang dan setengah kilogram cumi saus tiram. Kami memilih udang yang berukuran cukup besar dan cumi-cumi yang segar langsung di warungnya. Setelah menunggu beberapa saat, datanglah pesanan kami. Seporsi besar udang saus padang yang masih mengepulkan asapnya dan seporsi cumi saus tiram langsung kami serbu bersama, untuk menghilangkan rasa lapar setelah lelah memotret dan berjalan kaki di hari yang panas itu. Rasanya sungguh sedap,daging udangnya terasa manis dan segar, begitu pula cumi-cuminya. Bumbu-bumbu saus padang dan saus tiram menyatu serasi dengan hangatnya nasi putih. Kami pun makan dengan lahapnya. Untuk makan siang selezat itu, kami hanya merogoh kocek seratus ribu rupiah, untuk berlima. Murah bukan?

Kenangan lezatnya menikmati hidangan seafood di pantai Teluk Penyu tak akan hilang dari ingatan kami semua. Saya pun berjanji untuk kembali lain kali, untuk menikmati surga seafood Pantai Teluk penyu lagi. 


The End

Rabu, 04 April 2012

Surga Seafood Pantai Teluk Penyu Cilacap (Part 2)


Di episode tulisan lalu, saya berjalan-jalan dan melihat-lihat kios-kios seafood sepanjang Pantai Teluk Penyu. Nah, sekarang saya lanjutkan cerita saya melihat proses pengolahan seafood segar yang dijual di salah satu kios, yaitu di kios Bu Niwen.


Siang perlahan mulai beranjak sore. Setelah lelah berkeliling melihat-lihat dan memotret, saya pun kembali lagi ke warung Bu Niwen. Kerongkongan saya yang mulai kering menggerakkan saya untuk membeli teh botol di warung Bu Niwen. Sebenarnya selain haus, lapar pun mulai terasa. Tetapi saya memutuskan untuk melanjutkan obrolan dengan Bu Niwen yang kali ini terlihat sibuk melayani pembeli seafood segar untuk dibawa pulang.Kebetulan ketika saya mengambil teh botol di kulkas, saya melihat seorang perempuan muda berkulit hitam manis dan berambut panjang sedang memasak di dapur. Karena tertarik ingin melihat proses masak-memasak dan ingin memotret, saya pun meminta izin kepada Bu Niwen yang dengan senang hati mempersilakan saya untuk langsung ke dapur.


Di dapur tercium bau harum masakan yang menggelitik hidung dan membuat perut tergoda minta diisi. Mbak Bekti, perempuan yang sedang memasak itu dengan ramah menyambut memperbolehkan saya untuk memotretnya memasak. Saat itu ia sedang memasak tumis udang dan cumi saus tiram pesanan seorang pelanggan yang datang dari Purwokerto yang memesan 3 kilogram udang dan 3 kilogram cumi. Untuk mengolahnya, udang dan cumi terlebih dahulu direbus hingga matang, setelah itu lalu ditumis. Bumbu-bumbu yang digunakan pun sederhana saja, seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, cabai merah, cabai hijau, merica, gula pasir, jahe, garam, terasi panggang, saus tiram, saus sambal dan kecap manis. Perhatian saya tertuju pada kecap manis yang digunakannya, yang ternyata merupakan produk lokal, bermerek Kecap Cap Kuntul. Saya jadi ingat merek kecap ternama yang juga menggunakan sejenis unggas sebagai mereknya.


Proses memasaknya pun tidak terlalu sulit. Pertama-tama, udang atau cumi dicuci dan dibersihkan, lalu direbus dengan air yang diberi garam secukupnya, dengan api besar, hingga airnya cepat berkurang sehingga udang ataupun cumi cepat matang. Setelah matang, lalu udang atau cumi ditiriskan. Bumbu-bumbu ada yang dihaluskan, seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi. Adapula yang diiris kasar, seperti bawang bombay dan daun bawang. cara memasaknya, pertama-tama panaskan minyak atau margarin secukupnya di wajan, setelah panas, masukkan bawang bombay, bumbu halus, diaduk-aduk sebentar hingga harum, lalu udang atau cumi dimasukkan dan diaduk. Beri sedikit air. Tuangkan garam secukupnya, merica, lalu kecap, saus tiram dan saus sambal. Setelah bumbu mulai meresap dan warnanya menyatu dengan udang atau cumi, masukkan daun bawang dan potongan-potongan utuh cabai merah dan hijau sebagai garnish. Setelah matang, angkat dan tiriskan. Udang ataupun cumi pun siap dihidangkan, dibungkus, lalu dibawa pulang, ataupun langsung dimakan di tempat.



Saya kepikiran untuk memesan, karena tak tahan melihat harumnya kepul-kepul asap dari udang yang baru dimasak, tetapi tiba-tiba ponsel saya berbunyi dan sebuah pesan yang mengabarkan bahwa bus akan menjemput sekitar pukul 5, membuat saya membatalkan niat itu. Lagipula, saya pasti tak akan kuat menghabiskan seporsi udang atau cumi saus tiram sendirian tanpa kawan. Akhirnya, karena waktu penjemputan sudah makin dekat, akhirnya saya pun pamit kepada Mbak Bekti dan Bu Niwen, dan berjanji kepada mereka untuk datang lagi esok hari mencicipi lezatnya masakan Mbak Bekti bersama teman-teman.



Cerita selanjutnya, ikuti perjalanan saya ke tempat pelelangan ikan terbesar yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, dan kesempatan menikmati lezatnya hidangan seafood di warung Bu Niwen bersama beberapa teman fotografer.

Rabu, 28 Maret 2012

Surga Seafood Pantai Teluk Penyu Cilacap (Part 1)


Tulisan berikut ini tentang pengalaman saya menelusuri Pantai Teluk Penyu Cilacap dalam rangka Kelas Pagi Yogyakarta Conceptual Editorial Photography Workshop, 17 & 18 Maret 2012. Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa bagian. Selamat menikmati...



Siang itu udara terasa lembab, namun matahari tampaknya menurunkan kadar kegarangan sinarnya. Bus yang membawa rombongan murid Kelas Pagi Yogyakarta berhenti di area pantai Teluk Penyu Cilacap tepat di seberang deretan kios-kios yang menjual aneka olahan seafood. Bus menurunkan salah seorang penumpangnya yaitu saya, untuk menelusuri kawasan Pantai Teluk Penyu berburu foto untuk tugas esai foto bertema seafood.


Deretan kios aneka olahan hasil laut di Pantai Teluk Penyu yang berjajar rapi menarik perhatian saya. Ini adalah kali pertama saya berkunjung di pantai ini. Teluk Penyu sendiri merupakan salah satu pantai yang terdapat di Cilacap, Jawa Tengah, tepatnya di pantai selatan Pulau Jawa, yang cukup dekat dengan Pulau Nusa Kambangan, dan terkenal dengan hasil lautnya. Pantai ini mendapatkan namanya karena konon, dahulu sering dijumpai adanya penyu yang mampir dan bertelur di sana. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin padatnya aktivitas manusia di situ, maka lama-kelamaan Teluk Penyu tinggal sekadar nama.


Pantai Teluk Penyu adalah pantai yang bergelombang besar, tidak ramah untuk direnangi. Gelombang besar ini kemudian diantisipasi dengan dibangunnya pemecah gelombang yang berderet-deret di tepi pantainya. Pemecah gelombang berbahan beton ini berbentuk seperti tangga batu berukuran besar yang ditidurkan. Pemecah gelombang ini menjadi tempat favorit bagi para pemancing ikan yang mengadu untung mendapatkan hasil laut yang berlimpah dari pantai ini.


Di tepi pantai ini pula bisa kita jumpai deretan perahu nelayan aneka warna yang memikat mata serta aktivitas nelayan yang terlihat sedang memperbaiki jaringnya. Anak-anak nelayan pun tak mau kalah ikut mengadu peruntungan mencari kerang dan kepiting kecil di antara pemecah gelombang. Sungguh pemandangan yang membawa nuansa berbeda untuk saya.



Di kios-kios penjualan hasil laut, saya melihat pemandangan menarik berupa aneka olahan hasil laut seperti ikan asin aneka jenis seperti jambal roti, ikan pari, ikan gabus, cumi asin, terasi dan juga aneka ikan segar, kepiting, udang, cumi yang diletakkan dalam baskom-baskom kaleng. Saya pun asik memotret, setelah terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik kios. Menurut salah seorang pedagang yang saya datangi kiosnya, Bu Niwen, aneka ikan asin dan ikan segar yang dijual di situ berasal dari sekitar pantai Teluk Penyu. Biasanya Bu Niwen mendapatkan ikan dan hasil laut lainnya dari tempat pelelangan ikan yang tersebar di sekitar Pantai Teluk Penyu. Biasanya, ikan yang dijualnya lebih banyak, ketika musim sedang bersahabat. Namun, musim yang tidak bersahabat sehingga menimbulkan gelombang besar, turut mempengaruhi hasil tangkapan yang didapat oleh para nelayan, sehingga tempat pelelangan ikan pun sepi dan tidak banyak hasil laut segar yang dijual di sana.


Saya bertanya lagi tentang pengolahan ikan asin kepada Bu Niwen. Menurutnya, para pedagang umumnya memproduksi sendiri ikan asin yang dijual mereka. Ketika ikan segar yang dijual tidak laku, mereka pun kemudian mengawetkan ikan-ikan tersebut menjadi ikan asin untuk dijual kembali. Biasanya mereka memproses ikan asin di belakang kios, dengan merendam ikan di larutan air garam, dan kemudian menjemurnya di halaman belakang untuk mengeringkannya. Menurut Bu Niwen, ikan asin dagangannya tidak menggunakan formalin, jadi aman untuk dikonsumsi.


Selain berjualan aneka ikan asin, Bu Niwen pun membuka rumah makan olahan seafood, seperti umumnya pedagang lainnya. Untuk makan di situ, caranya pembeli bisa memilih sendiri ikan, udang, kepiting ataupun cumi yang dijual di warungnya, sejumlah yang diinginkan. Setelah itu, Bu Niwen akan mengolah hasil laut tersebut menjadi makanan sesuai pilihan menu si pembeli. Ada menu ikan, udang, cumi, maupun kepiting yang diolah dengan cara digoreng tepung, goreng mentega, saus tiram, asam manis, saus padang, dan asam pedas. Pembeli bisa makan di tempat, ataupun membawa pulang hasil masakan dari warung Bu Niwen. Harga yang ditawarkan cukup murah, contohnya, untuk satu kilogram udang yang dimasak menu apa saja  dihargai Rp. 50.000,-, sedangkan cumi yang dimasak, untuk satu kilogramnya dihargai Rp. 30.000,-. Cukup murah untuk masakan hasil laut yang segar.

Cerita saya berakhir di sini, saya akan lanjutkan lagi dengan episode melihat proses memasak udang dan cumi, mencicipinya, serta perjalanan saya melihat Tempat Pelelangan Ikan terbesar yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap.

Minggu, 25 Maret 2012

Mi Ayam Jago di Kaki Lima Jalan Solo



Makan siang di kaki lima alias street food nggak pernah jadi masalah buat saya. Siang itu, setelah lelah berkeliling di sebuah mal di dekat jalan Solo Jogja, tiba-tiba saya ingin sekali makan mi ayam. Kebetulan, saya punya langganan mi ayam yang mangkal di trotoar jalan Solo, persis di depan sebuah toko elektronik yang cukup besar. Mi Ayam yang saya maksud adalah Mi Ayam Jago, yang kondang di kalangan para pegawai toko di kawasan pertokoan Jalan Solo dan sekitarnya. Pak Sumardi memulai usaha berdagang mie ayam buatannya sendiri pada awal tahun 1990-an. Awal mulanya, sebelum menempati lokasi yang sekarang, Ia berjualan di sebuah gang di Jalan Solo, persis di sebelah Toko Jago. Dari situlah kemudian Ia menamai usahanya Mi Ayam Jago.


Saya pertama kali makan Mi Ayam Jago pada tahun 1990-an, sambil nongkrong di rumah teman yang tinggal di kawasan Klitren. Saya menyukai rasanya yang beda dengan mi ayam 'Jawa' lainnya, yang umumnya menggunakan mi yang berukuran cukup besar. Untuk mi, Pak Suwardi memproduksi sendiri mi yang berukuran lebih kecil dan sedikit keriting, jenis mi yang saya suka! Pak Suwardi pun cukup bermurah hati dalam memberikan taburan ayam dalam semangkuk mi dagangannya. Tak lupa beberapa potong sawi segar turut pula disertakan dalam semangkuk mi. Untuk rasanya, mi ayam ini cukup enak dan bikin ketagihan. Harganya pun murah meriah. Buktinya, kami sekeluarga menjadi penggemar berat mi ayam ini.


Setiap hari, ketika waktu makan siang tiba, emperan toko tempat mangkal Mi Ayam Jago selalu ramai dikerubuti oleh pelanggannya, yang sebagian besar adalah para pegawai toko di kawasan Jalan Solo dan sekitarnya. Untuk pengunjungnya, Pak Suwardi hanya menyiapkan dua buah meja serta sebuah kursi panjang yang difungsikan sebagai meja. Alhasil, karena tinggi kursi panjang tidak pas sehingga menyebabkan ketidaknyamanan untuk menyantap mi karena harus menunduk, maka untuk menyantap semangkuk mi yang panas, Pak Suwardi menyiasatinya dengan memberikan mangkuk dobel, sebagai alas agar tangan tidak kepanasan.Saat ini yang sering berjualan di lapak jalan Solo adalah salah seorang putra Pak Suwardi, selain Pak Suwardi sendiri yang terkadang membantu berjualan.


Buat yang nggak suka makan di emperan atau di kaki lima, cobain deh, pasti akan memberikan nuansa lain. Kalau anda peduli dengan kebersihan makanan, jangan kuatir, Pak Suwardi telah mengantongi sertifikat kursus higienitas makanan dari Dinas Kesehatan Pemkot Yogyakarta, keluaran 2011. Sertifikat tersebut dipajang di gerobak tempatnya berjualan.


Seni menikmati makanan di kaki lima adalah saat kita berebutan tempat dengan pengunjung lainnya, atau bahkan menjadi tontonan bagi orang yang lewat di sekitarnya, hehehe...

Mi Ayam Jago
Kawasan Perniagaan Jalan Solo
Depan Toko Elektronik Enggal Jaya
Yogyakarta
Harga: murah meriah, sekitar Rp. 6000,-/porsi

Rabu, 07 Maret 2012

Eksotisme dalam Sepotong Mangut Iwak Beong



Di posting lalu saya sudah ceritakan sekilas tentang iwak beong, yang tidak jadi saya cicipi waktu saya main ke Borobudur. Nah, minggu lalu, saya diajak lagi ke Borobudur untuk urusan rapat perayaan Hari Pusaka Dunia. Gayung bersambut nih, langsung aja saya kepikiran untuk nyobain si iwak Beong nan eksotis itu. Karena takut kehabisan, saya kepikiran untuk nyobain iwak beong untuk sarapan, minimal brunch lah, karena kami sampai di borobudur aja setelah jam 9 pagi. Perkiraan saya tepat, pada pukul setengah 10-an warung itu belum terlalu ramai, hanya ada satu atau dua orang pengunjung. Nama warung ini adalah Warung Sehati, yang menjual masakan spesial mangut ikan beong yang bercita rasa pedas.


Warung ini sederhana, tapi cukup nyaman dan menyenangkan. Kami dipersilakan ke semacam etalase di tengah ruangan, tempat memajang hidangan yang dijual, untuk memilih langsung hidangan yang diinginkan. Etalase ini sangat khas, diberi korden pencegah debut dan lalat. Begitu korden disingkapkan, di dalamnya
terlihat beberapa baskom yang berisi mangut ikan beong, mangut ikan lele, mangut wader, udang, gudangan semacam trancam, juga mangut kepala beong yang berukuran cukup menakjubkan. Saya memilih mangut ikan beong bagian ekor, plus trancam, untuk menemani nasi hangat setengah porsi yang saya pesan.


Setelah menu pilihan saya terhidang di meja, takjublah saya melihat ukuran ikan ini. Seporsi bagian ekor ikan beong terlihat hampir memenuhi piring, dengan kuah mangut secukupnya, dan potongan-potongan cabe rawit berwarna merah, kuning dan oranye yang menggoda mata dan lidah. Bikin kemecer aja...ngiler...cleguks...menggoda imanlah pokoknya. Daging ikan beong terasa gurih dan kenyal, rasanya pas sekali dimasak dengan cara dimangut dan pedas pula, waaaaahhhh...eksotis banget rasanya. Apalagi dimakan dengan nasi hangat yang masih kepul-kepul dan sambil menyeruput kuahnya yang pedas dan segar...alamaaaaaaakkk...enak beneeerrrr...Saking besarnya, hampir saja saya urung menghabiskan karena kekenyangan, tapi kok sayang ya, hehehe...akhirnya terpaksa saya habiskan...




Ikan beong adalah sejenis ikan yang hidup di Kali Progo, yang mengaliri Jawa tengah dan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,  berhulu di kaki gunung Sindoro serta bermuara di pesisir selatan Jawa, tepatnya di pantai Trisik. Bentuknya mirip ikan lele, tapi tak berpatil, ada pula yang bilang mirip ikan patin. Panjangnya sekitar 15-25 cm, bobotnya bisa mencapai 3 kg per ekor, mantab kan? Bumbu mangut antara lain terdiri dari  jahe, serai, kencur, daun jeruk pecel, kunyit, bawang merah dan putih, serta kencur, dan tak lupa, cabai rawit untuk membuatnya lebih pedas. Santan kelapa juga dibutuhkan untuk memasak hidangan mangut ini.


Dalam sehari, warung Sehati menghabiskan sekitar 50-70 kg ikan beong, dan di hari-hari libur, juga weekend, ketika warung ini dipadati pengunjung, bisa menghabiskan sampai satu kuintal ikan beong. Cukup luar biasa untuk warung sekecil ini. Warung ini sudah berdiri sejak 25 tahun yang lalu, menurut cerita dari pengelola warung. Awalnya warung ini menjual menu bakso dan soto, namun, setelah 5 tahun berjualan, akhirnya warung ini mengubah menunya menjadi penyedia aneka mangut dan terbukti sukses hingga sekarang. Penggemarnya pun meluas, mulai dari rakyat jelata, turis lokal, sampai para pejabat kabupaten Magelang yang gemar makan-makan, bahkan Pak Bondan Winarno pun pernah datang dan makan di warung ini. Foto-foto para pejabat ketika makan-makan di warung ini bisa kita lihat di salah satu dinding warung. Sssst...mobil-mobil pejabat pun nggak kalah lo, ikutan mejeng di depan warung, hehehe...


Sebelum mengakhiri kunjungan di warung ini, saya sempatkan untuk melihat-lihat dapurnya. Di dapur, terlihat beberapa perempuan sedang bekerja menyiapkan masakan, ada yang menggoreng potongan ikan, dan ada pula yang mengiris-iris gundukan cabai rawit. Ternyata rahasia kelezatan masakan di warung ini terletak pada kompornya yang masih menggunakan tungku tradisional berbahan kayu bakar. Saya juga melihat dua buah mangkuk yang penuh dengan sambal petai, yang ternyata pesanan Pak Tentara yang katanya sudah langganan di situ. Pantesan aja Pak tentara galak-galak, wong makananannya aja sambal pete gitu, hehehe...

Kita akhiri kunjungan di warung Sehati kali ini. Jangan lupa mampir ke sini ya, kalo penasaran dengan eksotisme dalam sepotong mangut iwak beong...

Warung Sehati, 
Spesial Kepala Beong
Empat kilometer barat Candi Borobudur, 
di tepi Jalan Raya Borobudur-Salaman, 
Desa Kembanglinmus, Kecamatan Borobudur
Buka: 08.00-14.00 wib (seringnya sih sebelum jam tutup, udah habis)


Harga: 
badan atau ekor plus nasi hangat (Rp. 7.500-10.000)
satu ekor ikan beong ukuran sedang-besar (Rp. 12.000-15.000,-)

Selasa, 28 Februari 2012

Santap Siang di Resto Waroeng Jamur Borobudur



Daerah di sekitar kawasan Candi Borobudur ternyata menyimpan pesona kuliner yang sayang kalo dilewatkan. Sebut saja Bakmi Pak Parno yang jadi idola para fotografer, juga mangut iwak Beong, yaitu ikan khas berukuran besar yang ada di sungai Progo Magelang dan Sungai Serayu di Wonosobo, Jawa Tengah, yang wujud fisiknya mirip lele, yang dimasak mangut. Sayangnya untuk yang saya sebutkan terakhir ini, belum pernah saya coba.


Pagi menjelang siang itu kami datang dari Jogja untuk mengadakan pertemuan dengan teman-teman pegiat pariwisata lokal Borobudur untuk membahas rencana acara peringatan World Heritage Day pada bulan April 2012. Setelah selesai rapat, sekitar jam 12.30, kami memutuskan untuk makan siang bersama. Teman-teman dari Borobudur mengajak kami untuk mencicipi mangut beong di sebuah warung di sebelah Barat kompleks Candi Borobudur. Namun, dasar belum rejeki, warungnya udah mau tutup karena udah kehabisan stok mangut iwak Beong. Yaaaaahhh...kecewa juga sih, tapi apa mau dikata, the show must go on, alias makan siang harus tetap dilanjutkan, sehingga akhirnya diputuskan untuk makan siang di sebuah warung makan yang khusus menjual menu-menu jamur, tak terlalu jauh dari warung iwak Beong tadi.


Warung makan yang kami datangi ini bernama Resto Waroeng Jamur. Nah loh, udah ada resto, ada warung pula. Never mind with the name, yang penting makan, hehehe...maklum, perut udah keroncongan. Warung ini terletak di pinggir jalan, cukup terbuka, dengan material bambu yang sesuai dengan lingkungannya. Kami memilih tempat duduk lesehan, karena memuat orang cukup banyak. Bayangin aja, kami datang berombongan, sekitar 12-15 orang, hehehe...


Karena berombongan, kami memesan makanan dengan sistem bagi hasil alias sharing, hehehe...Dalam daftar menu tertera sate jamur, tongseng jamur, bothok/pelas jamur, jamur goreng, ca jamur, nasi goreng jamur, dan dua menu selain jamur yaitu nila goreng dan nila bakar. Kami pun memesan aneka menu jamur yang disebut di atas, kecuali ca jamur. Setelah memesan, kami lanjutkan obrolan sambil duduk santai sambil leyeh-leyeh. Sekitar 15 menit kemudian, pesanan kami pun mulai diantarkan.


Saya mencoba semua jenis masakan jamur yang kami pesan. Ada sate jamur, tongseng jamur, bothok/pelas jamur, jamur goreng dan nasi goreng jamur. Nggak disangka-sangka, ternyata masakannya enak semua sodara-sodara! Saya paling suka dengan nasi gorengnya. Di piring saya isinya jadi campur aduk, ada nasi goreng, bothok jamur, sate jamur dan jamur goreng. Tongseng jamur saya coba belakangan, setelah nasi goreng jamur di piring saya habis. Salah seorang dari kami memesan nasi goreng jamur plus petai. Setelah nasi gorengnya diaduk untuk mencari petainya, wuih, ternyata petainya lebih banyak dari jamurnya, hahahaha...ini nasi goreng petai bonus jamur atau nasi goreng jamur bonus petai sih???



Harga semua menu di warung ini sangat ramah untuk kantong. Bayangin aja, sate jamur, tongseng jamur, jamur goreng dan ca jamur hanya dibandrol Rp.8.000,- seporsi. Sedangkan bothok atau pelas jamur yang dibungkus daun pisang hanya dibandrol Rp. 4.000,-per porsi. Ramah banget kan? Nah, buat anda para vegetarian yang kebetulan sedang berkunjung di Borobudur, bisa coba mampir di warung ini. Buat yang non-vegetarian pun tentu aja sangat dianjurkan, karena enak dan gurihnya masakan jamur bisa bikin kita melupakan daging barang sejenak.

Resto Waroeng Jamur
Tegal Arum, Borobudur
Magelang, Jawa Tengah