Salak pondoh merupakan salah satu produk agro unggulan dari kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis salak yang satu ini rasanya manis dan segar, sangat diminati sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan domestik yang berkunjung ke Jogja.
Sudah lama teman saya yang memiliki kebun salak pondoh menawarkan kepada saya dan teman-teman untuk mengunjungi kebun salaknya.Sayangnya tawaran menarik ini seringkali sulit diwujudkan karena kesibukan kami. Namun, akhirnya kesempatan itu pun akhirnya datang juga. Di suatu minggu pagi yang cerah di bulan April, kami berempat pun berkendara motor menuju kebun salak pondoh milik teman saya. Kebun Salak Alex, teman saya itu terletak di Desa Surodadi, tepatnya di lereng barat daya Merapi di bawah kaki Bukit Turgo.
Sejauh mata memandang hanya kehijauan yang tampak, kehijauan yang tampak sangat rapat sehingga menyerupai tempat bernaung yang meneduhkan. Kita bisa berjalan di antara tanaman salak tanpa khawatir merasa kepanasan. Sebuah kali kecil dengan airnya yang jernih mengalir tersembunyi di antara rapatnya kebun salak. Suasana terasa sangat menyejukkan sekaligus hangat menyenangkan.
Pak Tasno, sang pengelola kebun sudah hadir di kebun terlebih dahulu dengan karung kosong yang siap diisi salak. Hari itu sebenarnya bukanlah saat panen, namun yang saya lihat cukup banyak pohon yang buahnya sudah siap petik.
Saya takjub melihat gerombolan buah salak yang besar-besar tergantung di kaki pohon salak. Ada satu jenis salak yang menarik perhatian saya, yaitu salak gading, yang kulitnya berwarna cenderung kuning. Harganya pun lebih mahal dari salak biasa. Konon, menurut Alex, salak gading memiliki khasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Namun, tidak banyak salak gading ditanam di kebun Alex, hanya beberapa pohon saja. Selebihnya adalah salak pondoh biasa. Beberapa buah salak dipetik Alex dan diberikan kepada saya, suami saya dan Adriani, teman saya. Rasanya sangat enak, betul-betul fresh from the tree!
Untuk memetik salak, dibutuhkan golok dan sarung tangan, terutama buat yang belum terbiasa, mengingat pohon salak adalah pohon yang berduri banyak. Pak Tasno memeragakan cara memetik salak yang benar dan aman untuk kami. Beliau adalah seorang penyuluh perkebunan salak berpengalaman, yang menurut Alex merupakan salah satu pelopor boomingnya kebun salak pondoh di daerah Turi, Sleman sejak tahun 1990-an. Saat itu Pak Tasno berhasil mengkonversi ladang tebu yang tak produktif menjadi perkebunan salak. Saking berpengalamannya, Pak Tasno bisa membuat kebun salak panen hingga lebih dari 3 kali setahun, padahal biasanya salak dipanen sekitar 2-3 kali saja per tahun.
Cara cerdik Pak Tasno adalah dengan menaburkan serbuk sari dari tanaman salak jantan ke bunga yang ada di tanaman salak betina. Tanaman salak yang ada di kebun salak Alex semuanya tanaman salak betina. Jadi, dengan cerdasnya Pak Tasno mengumpulkan serbuk sari dari tanaman salak jantan dan menyimpannya ke dalam botol plastik bekas saus sambal. Serbuk sari itu kemudian ditaburkan ke bunga tanaman salak betina, yah, semacam kawin suntiklah kalau dianalogikan.
Berjalan di antara pohon salak pun harus hati-hati, karena terkadang ada duri dari dahan yang patah berserakan di tanah. Teman saya Adriani sempat tertusuk duri pohon salak di kakinya. Walaupun tidak menimbulkan luka yang parah, tapi cukup menyakitkan juga tampaknya. Karena itulah sepatu boots plastik antibanjir menjadi salah satu properti yang wajib dikenakan oleh petani salak.
Bu Tasno, istri Pak Tasno menyusul tak lama setelah kedatangan kami. Beliau sudah menyiapkan keranjang anyaman plastik untuk menampung salak.Jadi, sudah ada dua buah karung, plus satu keranjang anyaman plastik untuk menampung salak hasil 'panen' kali ini. Setelah salak terkumpul, segera penuhlah kedua karung dan keranjang itu. Bu Tasno mengikatkan selendang di karung yang penuh berisi salak dan menaikkan di punggungnya dibantu Pak Tasno. Bakul bambu berisi salak seberat kurang lebih 30 kg itu dengan mudah dibawanya berjalan.
Alex dan suami saya membantu membawakan salak masing-masing satu karung. Mereka membawanya di pundak, dan keluar dari kebun salak, sementara saya dan Adriani tinggal di dalam kebun salak, bermain-main dengan aliran kali kecil yang dingin dan segar. Setelah mereka kembali, kami pun meneruskan penelusuran di dalam kebun salak, memetik buah salak dan memasukkannya ke dalam kantung plastik yang kami bawa. Sampai saat makan siang, telah terkumpul cukup banyak salak untuk bisa dijual dengan menggelar lapak di depan rumah, hehehe...Kami pun membagi-bagi salak tersebut menjadi dua, satu bagian untuk saya dan suami, dan bagian lainnya untuk Adriani, kedua orang tua serta kerabatnya dari Medan yang menyusul untuk melihat kebun salak Alex.
Terima kasih untuk salaknya ya Alex!



















































